Banjarbaru

Momentum Emas Pariwisata Banua, Geopark Meratus Mendunia

Published

on

Pegunungan Meratus. (Foto/Ist)

BalainNews.com, BANJARBARU – Pengakuan Geopark Meratus sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark (UGGp) resmi diumumkan dalam Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-221 di Paris, April 2025 lalu. Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan menyambut pencapaian ini sebagai “momentum emas” untuk mendorong pariwisata Kalsel naik kelas ke panggung dunia.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin, menyatakan bahwa status internasional tersebut merupakan buah dari kerja keras berbagai pihak, termasuk masyarakat adat, pegiat lingkungan, akademisi, serta pemerintah pusat dan daerah.

“Penetapan Geopark Meratus sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark menjadi tonggak penting. Ini bukan sekadar pengakuan, tetapi peluang besar bagi Kalimantan Selatan untuk menata sektor pariwisata yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan berbasis kearifan lokal,” ujarnya, Selasa (2/6/2025).

Dengan status geopark dunia, kawasan Pegunungan Meratus kini tak hanya dikenal sebagai warisan geologi dan biodiversitas, tetapi juga sebagai destinasi ekowisata unggulan yang menyimpan nilai budaya Dayak dan Banjar.

Dispar Kalsel menyebut, berbagai program percepatan tengah disiapkan, termasuk peningkatan infrastruktur pariwisata, pelatihan masyarakat, dan kolaborasi dengan pelaku industri kreatif dan UMKM.

“Kami akan dorong wisata berbasis komunitas, wisata edukatif, dan festival budaya lokal. Ini saatnya pelaku UMKM kuliner, kriya, hingga tour guide lokal mengambil bagian dalam geliat ini,” kata Syarifuddin.

Sebagai bagian dari langkah strategis, dua agenda bertaraf internasional akan digelar di kawasan Geopark Meratus pada pertengahan tahun ini, yakni Tour de Loksado 2025 dan Festival Budaya Pasar Terapung.

“Kami tidak ingin euforia ini berhenti di seremoni saja. Kami ingin dunia melihat langsung keunikan dan keragaman budaya serta lanskap alam Kalimantan Selatan melalui event-event tersebut,” tambahnya.

Dinas Pariwisata menekankan bahwa pengakuan UNESCO bukan tanpa tantangan. Meratus akan terus dipantau oleh badan dunia itu setiap empat tahun untuk memastikan keberlanjutan lingkungan, sosial dan budaya tetap dijaga.

“Ini bukan semata soal mendatangkan wisatawan. Lebih penting adalah bagaimana kita melestarikan nilai-nilai lokal, menjaga hutan dan pegunungan kita, dan menjadikan warga lokal sebagai pelaku utama,” tegasnya.

Dispar Kalsel berharap semua kabupaten/kota yang termasuk dalam zona Geopark Meratus—seperti Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Balangan, Tapin, Kotabaru, dan Tanah Bumbu—bisa ikut aktif membangun narasi pariwisata daerah yang terintegrasi.

“Ini bukan hanya tanggung jawab provinsi. Semua pihak harus kompak. Geopark Meratus adalah milik kita bersama, warisan untuk generasi masa depan,” pungkasnya. [adv/rivani]

Populer

Exit mobile version