Banjarbaru

Ketika Stephen Hawking Bertemu Takdir

Published

on

Muhammad Radini, S.H.I., MH (Foto : Dok Pribadi).

BalainNews.com, BANJARBARU – Stephen Hawking meninggal pada 14 Maret 2018, bertepatan dengan Pi Day – hari yang dirayakan para ilmuwan sebagai simbol angka tak hingga, 3,14. Bagi banyak orang, itu hanyalah kebetulan. Tapi mungkin bagi semesta, itu cara halus menunjukkan bahwa hidup manusia, betapapun cerdasnya, tetap berputar dalam lingkaran takdir.

Hawking dikenal sebagai fisikawan paling berpengaruh pada abad ke-20, penulis A Brief History of Time dan The Grand Design.
Namun bukan teori lubang hitamnya yang paling menggemparkan dunia, melainkan pernyataannya bahwa “Tuhan tidak diperlukan untuk menjelaskan alam semesta.”

Ia berpendapat bahwa hukum gravitasi sudah cukup menjelaskan asal mula segalanya. Alam semesta, katanya, bisa muncul “dari ketiadaan.” Tapi justru di situ letak pertanyaan besar yang ia lupakan: dari mana datangnya hukum itu sendiri?

Sains Menjawab “Bagaimana”, Bukan “Mengapa”

Sains bekerja dengan logika sebab-akibat: menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi.
Namun sains tidak menjawab mengapa semua itu ada. Mengapa ada hukum gravitasi, cahaya, dan waktu yang tunduk pada pola tertentu? Mengapa semua hukum itu bisa “berjalan” dengan konsisten?
Pertanyaan seperti ini tak lagi bisa dijawab oleh rumus.

Dan di titik inilah, manusia bertemu batas.
Sebab pada akhirnya, akal adalah bagian dari ciptaan, bukan pencipta. Ia hanya bisa bekerja sejauh yang dibisakan.

Kesalahan Umum: Mencari Tuhan Sebagai Objek

Masalah Hawking bukan pada kecerdasannya, tapi pada titik tolaknya.
Ia menolak Tuhan karena memahami Tuhan sebagaimana banyak pemuka agama menggambarkannya, sebagai sosok ghaib yang bekerja di luar hukum alam, yang turun tangan bila manusia berdoa atau butuh keajaiban.

Padahal, sebagaimana diajarkan oleh Abang Bulganon — seorang Mursyid yang menjadi cahaya bagi banyak pencari kebenaran —
Tuhan bukan makhluk ghaib, bukan bentuk, bukan suara, bukan cahaya.
Kalau Tuhan bisa dibayangkan, dirasakan, atau dijumpai dalam mimpi, maka Dia sudah serupa dengan ciptaan.

Mursyid Abang Bulganon sering berkata, “Tuhan tidak perlu diakui, tidak perlu disembah agar ada. Kesadaran tentang Tuhan hanyalah karena Tuhan membisakan manusia untuk sadar.”

Artinya, seseorang bisa belajar teologi seumur hidup, tapi tak kunjung paham, karena pengetahuan itu pun tak bisa dimiliki kecuali diizinkan. Dan di situlah perbedaan antara akal yang mempelajari, dengan jiwa yang disadarkan.

Hawking dan Takdir yang Tak Terelakkan

Dalam pandangan Mursyid Abang Bulganon, segala sesuatu di semesta — termasuk keputusan, pemikiran, bahkan keyakinan — sudah tertulis dalam blueprint takdir. Manusia berjalan di jalan yang sudah ditetapkan, tapi tetap diberi ruang untuk berikhtiar sebagai bentuk adab terhadap Tuhan.

Itu sebabnya, mengetahui sesuatu sebelum terjadi bukanlah kekuatan, melainkan kesaksian. Mursyid Abang Bulganon pernah berkata bahwa seseorang yang dibukakan “pengetahuan sebelum peristiwa” bukan untuk mengubah takdir, tapi untuk memahami bahwa takdir memang pasti berlaku.

Dari sini kita bisa melihat betapa terbatasnya pandangan ilmuwan yang mengira segalanya bisa dikendalikan.
Hawking percaya dunia deterministik — segala sesuatu mengikuti hukum fisika tanpa campur tangan Tuhan.
Padahal, takdir juga deterministik, hanya saja ditentukan oleh kehendak yang lebih tinggi dari rumus mana pun.

Tuhan yang Nyata, Tapi Tak Serupa

Al-Qur’an berkata: “Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Nyata dan Yang Tersembunyi.” (QS Al-Hadid: 3)

Ayat ini bukan puisi, tapi kebenaran ontologis. Tuhan nyata, tapi nyata-Nya tidak bisa diindera. Bukan karena Dia ghaib, tapi karena manusia yang terbatas.

Dan di titik inilah pandangan Mursyid Abang Bul terasa menyejukkan: Bahwa Tuhan tidak menunggu ditemukan, tidak butuh dibuktikan, tidak menanti ibadah untuk hadir. Tuhan selalu ada. Yang berubah hanyalah apakah manusia sedang dibisakan melihatnya atau tidak.

Penutup: Antara Ilmu dan Kesadaran

Stephen Hawking mungkin tidak pernah menolak Tuhan sejati; ia hanya menolak versi Tuhan yang terlalu kecil bagi pikirannya. Namun di luar kesadarannya, seluruh hidupnya justru membuktikan kehadiran kehendak yang lebih besar —
yang membuatnya bertahan hidup puluhan tahun di luar batas medis, yang menuntun setiap pikirannya, dan yang menutup kisahnya di hari yang melambangkan keabadian.

Tuhan tidak perlu dibuktikan. Karena bahkan kemampuan manusia untuk mencari bukti pun adalah bagian dari kehendak Tuhan. Dan mungkin di akhir perjalanan, ketika ilmu berhenti di ujung logika,

Stephen Hawking akhirnya juga dengan caranya sendiri – bertemu takdir. [riv]

Oleh: Muhammad Radini – seorang murid dari Mursyid Abang Bulganon

Populer

Exit mobile version