Jakarta

Tercatat Dalam Lauh Mahfuz

Published

on

AJI. SH., MH (Lawyer LBH Yaskum Indonesia)

BalainNews.com, JAKARTA – Tidak semua yang kita jalani datang bersama penjelasan, Kadang hidup melangkah dalam sunyi, tanpa peta, tanpa logika yang bisa dirangkul nalar. Kita menanti jawaban atas doa yang tak kunjung dijawab. Lalu bertanya lirih dalam hati……….
Apa yang salah dari doa-doaku?

Kita ingin berubah…lebih sehat, lebih bahagia, lebih lapang rezeki, lebih damai
hati. Kita berharap semua sisi kehidupan berjalan sesuai harapan. Namun sejatinya, kita tak pernah benar-benar tahu arah dari takdir yang tengah kita jalani. Masa depan tetaplah misteri, dan Allah hanya memberi kita satu pilihan ”Terus berjalan”. Dengan husnudzon, dengan harapan, dengan langkah yang dipenuhi optimisme.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).”(QS. ArRa’d: 39)

Ayat ini seperti setitik cahaya dalam lorong gelap, tidak menerangi segalanya, tidak
menjelaskan semuanya, tapi menyadarkan bahwa Takdir adalah sesuatu yang telah tertulis Sempurna, Penuh makna dan hikmah.

” Jikalau Allah mau berkehendak TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN,
akan tetapi apakah kita tahu ?… apa yang Allah akan hapus dan akan rubahkan ?
sedangkan kita tidak pernah mengetahui apa yang sudah Allah catat dan tetapkan sebelumnya.”

Lalu, apakah doa, amal, dan ibadah kita mampu menggugah, merayu Allah untuk mengubah catatan itu ?? Sering kita membayangkan…”Kalau saja aku tahu apa
takdirku, tentu aku bisa memilih doa yang tepat.” Namun, Allah tak meminta kita tahu isi Lauh Mahfuz.

Allah hanya meminta kita percaya bahwa apa pun yang telah Dia tetapkan adalah ”Sempurna, tidak pernah kurang dan tidak pernah salah”. Semuanya….setiap helaan napas, kehilangan, keindahan, luka, dan suka, adalah yang terbaik bagi hamba-hamba dan segala ciptaan-Nya.

Aku teringat wejangan Abang :
“Ada hal yang lebih penting daripada ingin mengubah takdir. Sebab takdir adalah
urusan Allah. Yang perlu kita perkuat adalah iman dan ridha kepada-Nya. Karena tanpa Allah, kita bukan apa-apa, bukan siapa-siapa…maka perbaiki cara pandang kita…. cara menerima, cara menjalani, cara mensyukuri, dan pada akhirnya… cara melepaskan kemelekatan terhadap isi dunia ini.”

Takdir tidak perlu diubah atau dirubah. Bukan takdir kita yang keliru, melainkan cara kita melihat hidup yang menyempit. Kita menimbang bahagia terlalu datar, kita memaksa semua sesuai keinginan/kehendak, padahal hidup
adalah tentang ikhlas dan Jujur.

Didalam Menerima/Ridha, ada hal-hal yang tidak bisa dimiliki, meski telah
diperjuangkan sekuat tenaga. Sebaliknya, terkadang ada karunia yang hadir begitu saja, tanpa kita minta, tanpa kita sangka, keuntungan, saldo yang bertambah isinya, senyum sumringah, kebahagiaan seperti hadiah dari langit yang mengetuk
pikiran dan hati tanpa peringatan.

Apa yang kita ketahui, mungkin masih bisa kita ikhtiarkan. Tapi bagaimana mungkin kita mengubah sesuatu yang bahkan kita tidak tahu? Itulah hakikat takdir. Ia tersembunyi, sunyi, penuh rahasia dalam kesempurnaan.

Kita ingin mengubahnya, namun tak pernah benar-benar tahu bentuknya.
Bukankah itu… aneh ???. Kita sering mendambakan perubahan takdir, karena
merasa hidup kita kekurangan, stagnan, jenuh, bosan, pesimis atau kehilangan
arah. Namun ketikan ini bukan untuk menjawab semua teka-teki kehidupan.

Karena memang, tak ada manusia yang tahu isi Lauh Mahfuz….selain Allah. Nahhh…torehan ini hanyalah ajakan lembut untuk duduk sejenak, menyapa doa-doa yang merasa belum dijawab, menenangkan hati yang sedang berkecamuk oleh ketidakpastian. Satu hal yang masih bisa kita yakini ”Allah tidak akan membiarkan perjuangan, pengorbanan kita sia-sia”.

Setiap langkah, pengorbanan, dan kesungguhan, tak ada yang luput dari catatanNya. Skenario-Nya mungkin pelan, mungkin cepat tapi pasti !. Mungkin hari ini
belum terang, tapi siapa tahu justru inilah awal perubahan besar untuk esok hari?
Apa yang hilang hari ini, boleh jadi adalah sesuatu yang sedang diganti…dengan sesuatu yang lebih baik, lebih berkah dikemudian.

Maka mari kita terus menjadi lebih baik, lebih tenang, lebih dewasa, dan lebih bahagia dari hari kemarin. Bukan karena kita bisa mengubah takdir, tapi karena kita sedang belajar untuk tumbuh, bernyanyi dan menari di dalamnya. [riv]

Penulis :
AJI., SH., MH (Lawyer LBH Yaskum Indonesia)

Populer

Exit mobile version