Jakarta
Sebelum Api Membakar, Hadirkan Cahaya Kesadaran
BalainNews.com, KEMBANGAN — Wahai jiwa yang sedang berjalan, ketahuilah:
Allah meniupkan rahasia-Nya ke dalam dada manusia. Dari rahasia itu lahirlah akal yang merangkai mesin, lahir tangan yang mencipta, dan lahir hati yang merasakan.
Di antara rasa yang Dia titipkan, ada amarah. Jangan tergesa menuduhnya buruk, sebab api tak pernah salah diciptakan. Api bisa memasak, bisa menghangatkan, namun juga bisa membakar dan memusnahkan.
Begitulah amarah: ada amarah yang menutup cahaya, dan ada amarah yang justru membuka jalan kasih.
Abang Guru pernah berkata lirih, “Orang kuat bukanlah yang menumbangkan banyak tubuh, melainkan yang menundukkan badai dalam dirinya sendiri.
Mengendalikan amarah bukan berarti memenjarakannya, melainkan menuntunnya kembali ke jalan cinta.”
Wahai jiwa, ada amarah yang lahir dari ego dan kesombongan. Itulah api liar — ia menyala ketika kau merasa diremehkan,
ia meletup ketika bayangan prasangka menipu pandanganmu. Kadang ia menyamar sebagai pembela kebenaran,
padahal hanya sedang melayani bisikan nafsu yang samar.
Amarah semacam ini buta; ia menelan dirimu sebelum sempat membakar orang lain.
Namun, ada pula amarah yang lahir dari cinta. Ia bukan api liar, melainkan nyala pelita yang dijaga rahmat. Seperti seorang ibu yang meninggikan suara, bukan karena benci, melainkan karena ingin menyelamatkan anaknya dari jurang. Seperti seorang guru yang menegur muridnya, bukan karena dendam,
melainkan karena ingin menjaga cahaya dalam diri sang murid.
Tetapi, wahai jiwa, ketahuilah rahasia ini:
amarah adalah anak panah yang melesat lebih cepat dari kesadaran. Sebelum engkau sempat bernapas, lidahmu telah melukai.
Sebelum hatimu sempat tenang, nada suaramu telah meninggi. Dan ketika badai reda, tinggallah penyesalan bersimpuh di depanmu.
Maka rahasianya adalah hadirkan kesadaran sebelum marah. Sebab ketika kesadaran datang terlambat, amarah sudah berubah menjadi bara yang tak bisa dipadamkan.
Ingatlah, kesadaran sejati lahir dari cahaya iman. Imanlah yang menuntun langkahmu di tengah gelap pikiran. Imanlah yang meredakan gelombang saat laut emosimu mengamuk. Dalam iman, Allah membisikkan dengan kelembutan-Nya: “Aku dekat denganmu, lebih dekat daripada urat lehermu. Tenanglah, wahai jiwa.”
Maka, saat amarah mengetuk pintu dada,
tariklah nafas perlahan, biarkan udara menjadi zikir. Hadirkan Allah dalam keheninganmu. Tanyakan pada dirimu yang paling dalam: “Apakah amarah ini untuk menjaga diriku, ataukah hanya untuk menyanjung egoku?”
Jika kesadaran memimpin, amarah akan berubah menjadi doa. Bahasamu akan menjadi penawar, suaramu akan menjadi pelukan, dan tindakanmu menjadi jembatan menuju kasih.
Wahai jiwa, jadikan amarahmu cahaya.
Jangan biarkan api liar membakar ladang hati, tetapi biarkan ia menjadi pelita yang menuntunmu pulang kepada Dia yang menanamkan rasa. [riv]
Oleh : AJI, SH., MH / Advokat Yaskum Indonesia
Editor : M Rivani A