Jakarta

Titik Ter-rendah di Hadapan Allah

Published

on

AJI., SH., MH., Lawyer YAKIN. (Foto : Balain)

BalainNews.com, KEMBANGAN – Pengertian ini lahir dari perjalanan seorang Abang Guru yang telah lama menapaki jalan panjang kehidupan spiritual. Dia pernah berkata, *“Kita baru benar-benar hidup ketika kita berhenti merasa mampu mengatur hidup.”* Kalimat itu tampak sederhana, namun di dalamnya tersimpan kedalaman yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah berserah di hadapan Allah sepenuhnya.

Ketika seseorang sampai pada kesadaran bahwa semua adalah kehendak Allah, bahwa tidak ada satu hela napas, langkah, bahkan getar rasa di hati yang lepas dari pengaturan-Nya, maka sesuatu yang lembut mulai tumbuh di dalam dirinya, “keheningan”. Dunia seolah melambat. Segala hiruk pikuk, ambisi, keinginan, dan kegelisahan yang dulu menjerat hati, tiba-tiba terasa jauh. *Dalam kesadaran itu, manusia menyadari bahwa tak ada lagi yang bisa diubah selain dirinya sendiri yang belajar menerima setiap kehendak Allah.*

Namun sebelum sampai ke sana, manusia sering kali harus melewati lembah terdalam dari rasa lelah. Titik terendah pertama adalah ketika seluruh usaha terasa sia-sia. Ketika doa sudah tidak terhitung, kerja keras sudah dilakukan, namun hasil yang datang justru kebalikannya. Dalam keadaan itu, manusia merasa tak berdaya. Dia menangis di malam hari, merasa tertinggal, kehilangan arah, dan bertanya dalam diam: “Mengapa, ya Allah?” Itulah titik rendah yang paling banyak dialami manusia, titik di mana kepasrahan lahir bukan karena kesadaran, tapi karena kelelahan. Kita menyerah karena sudah tidak tahu harus apa lagi. Kita pasrah bukan karena ridha, tapi karena tidak punya pilihan. Namun bahkan di titik ini pun, Allah tetap hadir, menyapa kita untuk belajar memahami bahwa bukan hasil yang dia ingin tunjukkan, melainkan wujud di balik semua peristiwa.

Lalu datanglah titik terendah yang kedua, titik ter-rendah yang sejati. Di sinilah manusia mulai diam. Tak lagi sibuk bertanya, tak lagi sibuk menuntut. Semua yang terjadi diterima dengan lapang dada, bukan karena tak peduli, tapi karena sadar, segala sesuatu memang sudah ada dalam genggaman Allah. Di sini, manusia tak lagi ingin menjadi pengatur hidupnya sendiri. Dia mulai melihat bahwa bahkan rasa ingin, rasa mampu, dan rasa gagal, semuanya pun datang dari-Nya.

Dalam titik ter-rendah itu, ada ketenangan yang dalam. Bukan karena masalah telah selesai, melainkan karena hati telah menemukan tempat bersandarnya. Dunia seolah berhenti berisik. Tidak ada lagi dorongan untuk membandingkan diri, tidak ada lagi rasa ingin melawan arah angin. Semua menjadi ringan, karena Allah-lah yang menuntun setiap langkah, bahkan di saat kaki tak tahu ke mana harus melangkah.

Abang Guru pernah menulis dalam catatannya:

“Ketika kamu tidak lagi mempersoalkan apa yang datang dan pergi, di sanalah kamu mulai mengenal siapa yang sesungguhnya mengatur hidupmu.”

Titik ter-rendah bukanlah kehancuran. Dia justru awal dari kebangkitan spiritual. Di sanalah manusia benar-benar mengenal dirinya sebagai hamba, bukan makhluk yang berdaya, tapi yang selalu diberi daya. Semua kebisaan yang kita banggakan, semua rencana yang kita susun, semua kekuatan yang kita rasa miliki, ternyata hanyalah pinjaman. Kita hanya bisa karena Allah yang membisakan. Kita hanya mampu karena Dia yang memampukan. Kita hanya hidup karena Dia yang menghidupkan.

Dan ketika kesadaran itu menembus hati, air mata yang dulu lahir karena kecewa, kini berubah menjadi air mata syukur. Kita tidak lagi melihat dunia sebagai tempat untuk melawan, tapi sebagai ladang untuk menyaksikan bagaimana Allah bekerja.

Maka, di titik ter-rendah itulah sebenarnya manusia sedang ditinggikan, bukan di mata dunia, tapi di hadapan Allah. Karena hanya hati yang tunduk total, yang mampu menerima bahwa tidak ada satu pun yang terjadi di luar kehendak-Nya.

Namun, memahami bahwa seluruh kehidupan adalah kehendak Allah bukan berarti kita berhenti melangkah. Justru di situlah kita belajar melangkah dengan tenang, sebab setiap langkah kini bukan lagi beban, melainkan bentuk pengabdian. Kita bergerak bukan untuk menentang takdir, tetapi untuk menyambutnya dengan keyakinan bahwa Allah selalu menyertai.

Kita berusaha bukan karena takut gagal, tetapi karena yakin Allah bersama setiap usaha yang tulus. Kita berjalan bukan untuk membuktikan diri, tetapi untuk menikmati kebersamaan dengan-Nya dalam setiap denyut kehidupan.

Sungguh, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari mengetahui bahwa apa pun yang terjadi, kita tidak pernah sendiri. Karena setiap langkah, setiap jatuh, setiap bangkit, selalu ada Allah memeluk, menuntun, dan menghidupkan. Dan di situlah puncak kebahagiaan seorang hamba, hidup dalam genggaman-Nya, dan menjadikan kebersamaan dengan Allah sebagai kebanggaan serta ketenangan yang sejati. [riv]

Penulis : AJI., SH., MH. /Lawyer YAKIN Jakarta.

Populer

Exit mobile version