Kalsel
Paman Birin Lepas Kibar Merah Putih, Meriahkan HUT Proklamasi ALRI
BalainNews.com, HULU SUNGAI SELATAN – Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor atau Paman Birin melepas peserta Kibar Merah Putih dalam rangka HUT Proklamasi Gubernur Tentara Divisi IV Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Pertahanan Kalimantan ke-75 Tahun 2024 di Monumen Proklamasi 17 Mei 1949, Hulu Sungai Selatan pada Jum’at (17/5) siang.
Menggunakan bendera hitam putih, Paman Birin resmi melepas rombongan peserta Kibar Merah Putih di halaman depan Monumen Proklamasi 17 Mei 1949.
Start dari tempat upacara, peserta berjalan kaki menuju Desa Telaga Langsat yang diangkut ke Desa Durian Rabung, Kecamatan Padang Batung. Sebanyak 250 peserta dari berbagai daerah se-Kalsel.
Acara itu dimeriahkan oleh sejumlah kelompok organisasi masyarakat, baik itu pelajar, mahasiswa, pramuka, taruna, hingga pemuda Dayak. Beragam penampilan mereka terlihat menggunakan baju ala tentara, ulama dan petani.
Sebelum pelepasan kibar bendera itu, Paman Birin saat apel Peringatan HUT Proklamasi ALRI mengajak masyarakat agar merefleksikan sejarah perjuangan para pejuang terdahulu yang kuat solidaritasnya. Ia menegaskan, semangat itu mengajarkan pantang menyerah tanpa gerak ruang terbatas apapun.
“Kerjasama dan solidaritas yang harus kita bangun bersama untuk masyarakat Kalimantan Selatan. Dibingkai dalam rasa cinta tanah air,” ungkap Paman Birin.
Untuk menciptakan kemerdekaan sejati, Paman Birin ingin seluruh komponen harus merasakan nilai sejarah tersebut. Ditengah sambutannya itu, sang Gubernur sempat menitikan air mata mengingat perjuangan itu terasa haru dan sakral.
“Sebagaimana Brigjen (TNI) Hasan Basry berdiri di sini. Membacakan teks Proklamasi 17 Mei 1949 sebagai Gubernur Tentara ALRI Komisi VI Pertahanan Kalimantan, kita harus senantiasa mengenangnya. Jasa-jasa pejuang terdahulu,” tutur gubernur dua periode itu.
Sementara itu, Ahmad Norhalis (19), seorang anak pramuka dari Saka Bakti Husada dalam naungan Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Dinkes HSS). Sebagai peserta kirab, ia ingin merasakan nilai perjuangan itu melalui jalan kaki.
“Sebagai anak muda, kita jangan sampai melupakan nilai-nilai juang itu. Jangan melupakan sejarah,” ujarnya.
Karena, Norhalis memandang bahwa perjuangan para veteran terdahulu yang kini dirasakan oleh generasi zaman sekarang. Sehingga, menurutnya perlu sekali anak muda turut berperan dalam merayakan HUT Proklamasi Gubernur Tentara Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan ke-75.
“Apalagi budaya-budaya luar sudah masuk, ditambah lagi majunya teknologi. Harusnya lebih mudah mengakses informasi dan menggali sejarah itu,” pungkasnya. [riv/mr/Adpim]
SebarkanBanjarbaru
Erupsi Gunung Anak Krakatau, Penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor Terdampak
BalainNews.com, BANJARBARU – Penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor terdampak akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang tengah terjadi dan mengakibatkan penutupan operasional dalam waktu tertentu di Bandara Internasional Soekarno Hatta (CGK) pada hari ini, (06/09).
Terdapat sejumlah penerbangan yang terdampak dengan data sebagai berikut.
KEBERANGKATAN / DEPARTURE
1. GA533 | STD 07.00 WITA | BDJ-CGK
2. IU629 | STD 09.30 WITA | BDJ-CGK
3. GA535 | STD 10.20 WITA | BDJ-CGK
4. QG795 | STD 10.25 WITA | BDJ-SRG
5. IP617 | STD 10.55 WITA | BDJ-CGK
6. QG491 | STD 12.25 WITA | BDJ-CGK
7. IU627 | STD 13.20 WITA | BDJ-CGK
8. QG495 | STD 14.05 WITA | BDJ-SUB
KEDATANGAN / ARRIVAL
1. GA530 | STA 09.30 WITA | CGK-BDJ
2. QG480 | STA 09.55 WITA | SRG-BDJ
3. IP616 | STA 10.10 WITA | CGK-BDJ
4. QG490 | STA 11.55 WITA | CGK-BDJ
5. IU626 | STA 12.40 WITA | CGK-BDJ
6. QG794 | STA 13.35 WITA | SRG-BDJ
Seluruh penerbangan di atas dibatalkan untuk berangkat dan tiba di Bandara Internasional Syamsudin Noor dengan total penumpang terdampak sebanyak 1.187 penumpang keberangkatan dan 784 penumpang kedatangan.
”Informasi terkini yang kami dapatkan pagi ini, telah terbit NOTAM penutupan operasional Bandara Internasional Soekarno Hatta hingga pukul 13.30 WIB/14.30 WITA, sehingga hal ini berdampak pada penerbangan dari dan ke tujuan CGK dan penerbangan dengan rute terkoneksi. Hingga saat ini kami masih terus menunggu perkembangan situasi”, terang Stephanus Millyas Wardana.
Akibat kondisi ini, Bandara Internasional Syamsudin Noor telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan seperti _parking stand_ untuk pesawat-pesawat yang terdampak dan memberikan _service recovery_ kepada para penumpang.
“Kami menyarankan para pengguna jasa untuk memastikan kembali jadwal penerbangannya melalui informasi yang disampaikan oleh maskapai. Jika sudah berada di Bandara Internasional Syamsudin Noor jangan ragu untuk menghubungi petugas dan mengikuti arahannya jika membutuhkan bantuan. Kami berterima kasih atas pengertian seluruh pengguna jasa atas ketidaknyamanan yang terjadi selama kondisi ini berlangsung”, tutup Millyas. [riv/rls]
SebarkanBanjarmasin
Ombudsman Kalsel Luncurkan Buku 15/25 dan Buku Literasi Anti Maladministrasi
BalainNews.com, BANJARMASIN – Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) meluncurkan dua buku, yaitu buku bertajuk “15/25: Catatan Perjalanan Melayani dengan Hati, Ahli, Aksi” dan “Literasi Anti Maladministrasi”. Dalam kesempatan yang sama, Ombudsman Kalsel meluncurkan Aplikasi Monitoring Kerja Sama. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Perwakilan Ombudsman Kalsel, Kamis (3/9/2026).
Peluncuran ini dirangkai untuk memperingati dua momen penting: 15 tahun kehadiran Ombudsman Republik Indonesia (RI) di Kalsel dan 25 tahun kiprah Ombudsman RI di tingkat nasional. Kedua buku ini melengkapi 10 judul publikasi yang telah diterbitkan Ombudsman Kalsel sejak 2021 hingga 2025, termasuk Buku “15/25: Catatan Perjalanan Melayani dengan Hati, Ahli, Aksi” dan buku “Literasi Anti Maladministrasi” yang menjadi terbitan ke-9 dan ke-10. 10 buku dimaksud terdiri dari 6 buku reguler, 3 buku kompilasi dan 1 buku saku inspiratif, sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan beragam pengalaman, pemikiran, serta praktik pengawasan pelayanan publik.
Wakil Ketua Ombudsman RI, Rahmadi Indra Tektona, yang hadir pada kegiatan peluncuran menyambut baik dan memberikan apresiasi atas inisiasi aplikasi dan buku yang diterbitkan Ombudsman Kalsel. Harapannya akan meningkatkan budaya literasi di kalangan masyarakat terkait pelayanan publik dan maladministrasi. Juga semakin banyak yang mengetahui keberadaan Ombudsman RI serta memahami fungsi dan tugas yang diembannya. “Kami apresiasi para penulis yang sudah menyumbangkan tulisan dan pemikirannya. Kami meyakini hal ini akan membawa dampak positif dan memberi manfaat buat banyak pihak. Semoga insan Ombudsman lainnya di berbagai perwakilan makin banyak yang aktif menulis dan terdorong membuat buku seperti di Kalsel”, ujar Rahmadi.
Sementara itu, Anggota Ombudsman RI, Abdul Ghoffar, turut senang dan berbangga atas lahirnya karya berupa aplikasi dan dua buku oleh Ombudsman Kalsel. Menurutnya, ini merupakan bentuk inovasi dan dedikasi jajaran Ombudsman Kalsel dalam melaksanakan tugas dan fungsi pengawasan pelayanan publik secara optimal. “Selain kerja-kerja substantif pengawasan, Ombudsman perlu memainkan perannya dalam peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat maupun instansi pemerintah, salah satunya melalui penerbitan buku sebagai sumber pembelajaran. Jadi bisa berdampak terhadap perbaikan kualitas pelayanan publik”, tekan Ghoffar.
Kepala Perwakilan Ombudsman Kalsel, Hadi Rahman, menjelaskan bahwa buku “15/25: Catatan Perjalanan Melayani dengan Hati, Ahli, Aksi” adalah buku kompilasi setebal 333 halaman yang menghimpun 38 esai dari sembilan sudut pandang, mulai dari pimpinan Ombudsman, kepala daerah, instansi vertikal, insan media, hingga warga pelapor. Sementara buku “Literasi Anti Maladministrasi” merupakan buku reguler yang menyajikan 82 tulisan setebal 381 halaman karya insan Ombudsman RI dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kedua buku ini disiapkan sebagai rujukan praktis bagi siapapun yang peduli pada perbaikan layanan publik, sehingga tidak perlu bingung mencari sumber inspirasi dan referensi. Buku dimaksud juga bentuk aktualisasi diri dan akuntabilitas kinerja yang menjangkau luas dan lama lintas generasi serta dapat menambah perbendaharaan buku pada pojok baca maupun perpustakaan di tingkat daerah dan nasional,” jelas Hadi.
Selain meluncurkan dua buku, Ombudsman Kalsel merilis pula Aplikasi Monitoring Kerja Sama yang dilengkapi dengan Modul Operasional. Aplikasi tersebut diarahkan untuk membantu dokumentasi dan pengelolaan berbagai Nota Kesepahaman (MOU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) secara digital agar bisa terpantau isi, waktu dan tindaklanjutnya. Aplikasi ini menjadi sistem digital ketiga yang dikembangkan Ombudsman Kalsel setelah Aplikasi Monitoring Renja dan Buku Tamu Digital, yang telah berjalan dengan baik sampai dengan sekarang. [riv/jun]
SebarkanEkonomi
CSR Bank Kalsel Tak Sekadar Serap Anggaran, Dampak dan Kepatuhan Jadi Ukuran
BalainNews.com, SURABAYA – Program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Kalsel mulai ditempatkan dalam kerangka yang lebih terukur. Bukan sekadar melihat besaran anggaran yang tersalurkan maupun banyaknya kegiatan, Bank Kalsel mengevaluasi CSR melalui keaktifan cabang, bidang kegiatan, dampak program, kepatuhan terhadap aturan, hingga frekuensi pelaksanaan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari evaluasi kinerja CSR seluruh cabang yang dilakukan selama satu tahun. Setiap indikator memiliki bobot penilaian, sebelum hasilnya dipresentasikan kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuan dan menetapkan cabang dengan pelaksanaan CSR terbaik.
Firmansyah, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan mengatakan, penilaian dilakukan secara menyeluruh terhadap aktivitas CSR masing-masing cabang.
“Beberapa kriterianya, pertama masalah keaktifan cabang untuk bisa menjalankan kegiatan. Kemudian bidang kegiatannya, dampak kegiatan, kepatuhannya atas aturan yang sudah kita buat, dan juga jumlah kegiatannya,” ujar Firmansyah dalam wawancara di sela Media Gathering Bank Kalsel 2026 di Surabaya.
Menurut dia, mekanisme tersebut memastikan penilaian tidak berhenti pada aspek kuantitas. Kesesuaian kegiatan dengan tujuan CSR dan kepatuhan terhadap ketentuan yang telah ditetapkan menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas pelaksanaan program.
Hasil evaluasi tahun ini menempatkan Bank Kalsel Kantor Cabang (KC) Tanjung sebagai Pengelola CSR Alokasi Pemkab/Pemko Terbaik 2026.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Iwan Direktur Operasional Bank Kalsel kepada Pgs. Kepala Bank Kalsel KC Tanjung, Rabbiyanur Fahmi, dalam rangkaian Media Gathering Bank Kalsel 2026.
“Untuk tahun ini adalah Cabang Tanjung. Sebelumnya ada Balangan, kemudian Amuntai, dan tahun ini Tanjung,” kata Firmansyah.
Alokasi Ratusan Juta, Realisasi CSR Capai 70 Persen
Di sisi anggaran, alokasi CSR Bank Kalsel pada 2025 disebut mencapai sekitar Rp900 juta lebih. Pada 2026, alokasi tersebut mengalami sedikit penurunan menjadi sekitar Rp800 juta lebih.
Rabbiyanur Fahmi mengatakan, hingga tahun berjalan realisasi CSR 2026 telah mencapai sekitar 70 persen. Sementara sekitar 30 persen lainnya masih akan direalisasikan sesuai program dan ketentuan yang telah ditetapkan.
“Realisasi sampai dengan yang untuk tahun ini sekitar 70 persen. Jadi sisa sekitar 30 persen lagi,” ujar Rabbiyanur.
Program CSR Bank Kalsel diarahkan ke sejumlah bidang, di antaranya keagamaan, sosial dan kemasyarakatan, serta pendidikan. Pelaksanaan program mengacu pada bidang dan ketentuan yang ditetapkan kantor pusat.
Dengan demikian, besarnya anggaran bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Tata kelola, kesesuaian program, administrasi, dokumentasi, frekuensi kegiatan, serta dampak yang dihasilkan menjadi bagian dari evaluasi.
“Jadi tidak hanya melihat berapa banyak kegiatannya, tetapi juga kesesuaian dengan tujuan penggunaan CSR sendiri,” katanya.
Kepatuhan Administrasi Jadi Penopang
Penguatan evaluasi juga menyentuh aspek administrasi. Setiap penyaluran dan penggunaan dana CSR harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan perusahaan.
Dokumentasi kegiatan, frekuensi pelaksanaan, keaktifan cabang, hingga kesesuaian penggunaan dana dengan tujuan program menjadi bagian dari penilaian. Pola tersebut sekaligus menempatkan CSR sebagai bagian dari tata kelola perusahaan yang membutuhkan proses perencanaan dan pelaksanaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi Bank Kalsel, pendekatan tersebut penting agar CSR tidak berhenti pada aktivitas seremonial maupun penyerapan anggaran. Program diharapkan tetap memiliki tujuan yang jelas dan dilaksanakan sesuai koridor kebijakan perusahaan.
Karena itu, evaluasi tahunan menjadi instrumen untuk mendorong cabang lebih aktif mengembangkan program sekaligus menjaga kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Apresiasi untuk Pengelola CSR dan Influencer Internal
Rangkaian Media Gathering Bank Kalsel 2026 juga menjadi momentum pemberian apresiasi terhadap pegawai internal yang dinilai berkontribusi dalam mendukung komunikasi dan aktivitas perusahaan.

Selain penghargaan kepada Pgs. Kepala Bank Kalsel KC Tanjung Rabbiyanur Fahmi sebagai Pengelola CSR Alokasi Pemkab/Pemko Terbaik 2026, manajemen Bank Kalsel turut memberikan apresiasi kepada Muhammad Akhsan dan Muhammad Rizky Affandi sebagai Influencer Internal Bank Kalsel 2026.
Pemberian apresiasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menghargai kontribusi internal, baik dalam pelaksanaan program CSR maupun dalam membangun komunikasi perusahaan melalui sumber daya manusia di lingkungan Bank Kalsel.
Dengan evaluasi berbasis indikator, Bank Kalsel berupaya menempatkan CSR bukan hanya sebagai pos pengeluaran sosial, tetapi sebagai program perusahaan yang membutuhkan tata kelola, kepatuhan, pengukuran kinerja, serta orientasi pada manfaat. Penetapan Cabang Tanjung sebagai pengelola terbaik 2026 menjadi salah satu hasil dari mekanisme evaluasi tersebut. [adv/riv]
SebarkanEkonomi
Media Gathering Bank Kalsel 2026: Perkuat Sinergi dengan Media di Tengah Transformasi Jurnalisme
BalainNews.com, SURABAYA – Bank Kalsel kembali memperkuat sinergi dengan insan pers melalui kegiatan Media Gathering Bank Kalsel 2026 yang berlangsung pada 2–4 September 2026 di Platinum Hotel, Surabaya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Bank Kalsel melanjutkan komunikasi dan sinergi yang telah dibangun bersama media, sekaligus merespons dinamika industri pers di tengah perkembangan teknologi digital dan munculnya fenomena homeless media.
Direktur Operasional Bank Kalsel, Iwan, mengatakan media gathering merupakan kelanjutan dari program sebelumnya yang bertujuan memperkuat hubungan dan sinergi antara Bank Kalsel dengan media.
“Bank Kalsel perlu terus membangun dan memperkuat sinergi dengan teman-teman media. Kami memandang media sebagai partner strategis Bank Kalsel,” ujar Iwan.
Menurutnya, sinergi tersebut penting untuk memastikan berbagai program dan kegiatan Bank Kalsel dapat tersampaikan secara baik kepada masyarakat. Informasi mengenai program kerja perusahaan, kata dia, diharapkan dapat berjalan selaras dengan arah pembangunan daerah sehingga keberadaan Bank Kalsel dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi pembangunan serta masyarakat Kalimantan Selatan.
Sementara itu, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Kalsel, Firmansyah, menyoroti tantangan yang dihadapi dunia jurnalistik seiring berkembangnya ekosistem media digital, termasuk kemunculan homeless media.
Menurut Firmansyah, kegiatan media gathering juga menjadi ruang untuk memperluas pengetahuan dan wawasan insan media dalam memahami perubahan yang terjadi di dunia jurnalistik.
“Salah satu tantangan yang cukup besar adalah munculnya homeless media. Karena itu, teman-teman yang berada di media konvensional perlu menyikapi perkembangan ini secara bijak dan menjadikannya sebagai bagian dari dinamika serta tolok ukur perkembangan dunia jurnalisme,” katanya.
Firmansyah berpandangan, perkembangan homeless media tidak semata-mata harus dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri atau sebagai kompetitor media konvensional. Fenomena tersebut, menurutnya, dapat menjadi momentum bagi media konvensional untuk melakukan evaluasi dan transformasi mengikuti perkembangan teknologi.
Ia menilai diperlukan pola atau aturan yang dapat mendorong terciptanya sinergi antara media konvensional dan homeless media, sehingga perkembangan ekosistem informasi tetap berjalan secara sehat dan terarah.
“Media konvensional perlu terus meningkatkan perannya dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta ekosistem media yang semakin beragam,” jelasnya.
Transformasi menuju media multi-platform, lanjut Firman, menjadi bagian dari kebutuhan media di tengah perubahan perilaku masyarakat dalam memperoleh informasi. Namun, transformasi tersebut dinilai harus tetap berpijak pada kredibilitas dan prinsip-prinsip jurnalistik.
Karena itu, ia berharap ke depan terdapat aturan yang mampu menertibkan sekaligus mengarahkan perkembangan ekosistem media, tanpa menghambat inovasi dan proses adaptasi industri pers.
“Media konvensional tidak perlu terburu-buru dalam menyikapi perubahan, tetapi harus mampu bertransformasi secara tepat menjadi media multi-platform, tanpa kehilangan kredibilitas dan nilai-nilai jurnalistik,” pungkasnya.
Melalui Media Gathering Bank Kalsel 2026, komunikasi antara perbankan dan media diharapkan tidak berhenti pada hubungan publikasi semata. Sinergi tersebut juga menjadi ruang dialog untuk memahami perubahan ekosistem informasi, memperkuat literasi media, serta mendorong hadirnya jurnalisme yang tetap kredibel di tengah percepatan teknologi digital. [adv/riv]
SebarkanEkonomi
Bank Kalsel Gandeng Tempo.co: AI Tak Gantikan Wartawan, Verifikasi Jadi Pembeda Utama Jurnalisme
BalainNews.com, SURABAYA — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan kemunculan homeless media mengubah lanskap produksi serta distribusi informasi. Di tengah perubahan tersebut, kemampuan verifikasi, akses terhadap sumber, pengetahuan lokal, dan kepercayaan publik dinilai tetap menjadi fondasi utama jurnalisme.
Hal itu mengemuka dalam materi bertajuk “Homeless Media dan Era AI untuk Bank Kalsel” yang disampaikan Mitra Tarigan, redaktur Tempo.co sekaligus Trainer AI for Journalism 2026, dalam kegiatan Media Gathering 2026 di Surabaya, Kamis (3/9/2026).
Perubahan ekosistem informasi terlihat dari pola distribusi berita yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada portal media dan jaringan redaksi. Informasi kini dapat muncul dari berbagai platform, seperti Instagram, TikTok, video warga, maupun unggahan media sosial, kemudian menyebar luas melalui mekanisme algoritma.
Kondisi tersebut turut melahirkan homeless media, yakni media berbasis platform digital yang tidak selalu memiliki struktur dan organisasi redaksi sebagaimana media konvensional.
Model ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain kecepatan produksi, biaya operasional yang relatif rendah, jangkauan audiens yang luas, fleksibilitas dalam mengemas konten, serta peluang monetisasi melalui kerja sama merek, afiliasi, dan sponsorship.
Namun, kecepatan distribusi informasi tidak serta-merta identik dengan kerja jurnalistik.
Homeless Media Bisa Menjadi Radar Wartawan
Homeless media tidak selalu harus ditempatkan sebagai pesaing media konvensional. Konten yang mereka hasilkan dapat menjadi sumber informasi awal bagi wartawan, terutama ketika berada di lokasi sebuah peristiwa.
Video warga, unggahan saksi mata, maupun isu yang ramai diperbincangkan di media sosial dapat menjadi petunjuk awal bagi wartawan untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.
Perbedaannya terletak pada tahapan setelah informasi awal tersebut diperoleh.
Dalam materi tersebut ditegaskan bahwa konten dapat berhenti pada publikasi, sedangkan kerja jurnalistik menuntut proses lanjutan berupa verifikasi, konfirmasi, pemberian konteks, dan pertanggungjawaban kepada publik.
Dengan demikian, kecepatan bukan satu-satunya ukuran kualitas berita. Akurasi informasi, keberimbangan, relevansi, konteks, serta kepentingan publik tetap menjadi bagian penting dalam proses jurnalistik.
AI Mempercepat Kerja, Bukan Mengambil Alih Peran Jurnalis
Pemanfaatan AI di ruang redaksi memberikan peluang untuk meningkatkan efisiensi kerja. Teknologi tersebut dapat membantu proses transkripsi, penerjemahan, peringkasan, penyusunan draf awal, pembuatan alternatif judul, pengolahan data rutin, serta penandaan atau analisis awal terhadap materi visual.
Namun, penggunaan AI juga memiliki keterbatasan.
Investigasi lapangan, wawancara dengan sumber utama, verifikasi informasi kompleks, pemahaman terhadap konteks sosial dan budaya, penentuan nilai berita, pengambilan keputusan etis, serta pembangunan hubungan dengan narasumber tetap membutuhkan penilaian manusia.
Karena itu, AI lebih tepat ditempatkan sebagai alat bantu kerja jurnalistik, bukan sebagai pengganti wartawan.
Jurnalis tetap bertanggung jawab memeriksa keluaran AI, memastikan fakta, mengantisipasi kesalahan, dan menentukan keputusan editorial sebelum informasi dipublikasikan.
Risiko AI Memerlukan Tata Kelola
Penggunaan AI tanpa pedoman yang jelas juga membawa sejumlah risiko, antara lain hallucination atau informasi yang dihasilkan AI tetapi tidak sesuai fakta, fake citation, bias, deepfake, serta potensi persoalan hak cipta.
Materi tersebut juga mengutip data Thomson Reuters Foundation yang menyebutkan bahwa delapan dari 10 redaksi di Global South belum memiliki kebijakan mengenai penggunaan AI.
Ketiadaan kebijakan dapat membuka ruang bagi penggunaan AI secara tidak transparan serta meningkatkan risiko kesalahan jurnalistik, hukum, dan etika.
Karena itu, tata kelola dan transparansi penggunaan AI menjadi bagian penting dalam transformasi media.
Penggunaan AI untuk membantu pekerjaan internal perlu tetap berada dalam kendali dan tanggung jawab jurnalis. Sementara penggunaan materi sintetis, seperti foto, video, atau suara yang dihasilkan AI, membutuhkan perhatian lebih terhadap keterbukaan informasi kepada publik agar tidak menimbulkan kesan bahwa materi tersebut merupakan dokumentasi faktual.
Pengetahuan Lokal Jadi Keunggulan Media Daerah
Perkembangan AI juga menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi media daerah.
Salah satu modal yang sulit direplikasi mesin adalah pengetahuan lokal yang diperoleh melalui pengalaman, interaksi, dan jaringan di suatu wilayah.
Pemahaman terhadap karakter masyarakat, sejarah persoalan, kondisi geografis, jaringan narasumber, serta dinamika sosial setempat dapat menjadi nilai tambah bagi media daerah.
Karena itu, pemberitaan tidak cukup hanya mengejar algoritma mesin pencari. Informasi harus terlebih dahulu memiliki nilai dan manfaat bagi masyarakat.
Dalam pendekatan Generative Engine Optimization (GEO), kualitas informasi antara lain ditopang otoritas sumber, konteks, kejelasan, orisinalitas, struktur informasi, bukti, dan sitasi.
Sebuah berita mengenai suatu peristiwa, misalnya, tidak cukup hanya menjelaskan apa yang terjadi. Pemberitaan idealnya juga memberikan informasi mengenai lokasi, waktu, kronologi, data pendukung, pihak terdampak, keterangan pihak berwenang, serta informasi relevan lainnya yang dapat membantu publik memahami persoalan secara utuh.
Verifikasi Menjadi Benteng Jurnalisme
Di tengah banjir informasi dan kemampuan AI memproduksi konten dalam waktu singkat, verifikasi menjadi salah satu pembeda utama antara konten dan kerja jurnalistik.
Jurnalis dituntut melakukan pemeriksaan silang atau triangulasi melalui lebih dari satu sumber maupun metode. Informasi dari media sosial, misalnya, dapat diperiksa melalui wawancara, dokumen resmi, data lapangan, dan jejak digital yang relevan.
Selain literasi AI dan data, jurnalis membutuhkan editorial judgment, yakni kemampuan menentukan informasi yang memiliki nilai berita dan kepentingan publik.
Sebab, sesuatu yang viral belum tentu penting bagi publik. Sebaliknya, persoalan yang penting bagi masyarakat belum tentu langsung menjadi viral.
Dalam konteks tersebut, kemampuan memahami fakta, memberikan konteks, menjaga independensi, menerapkan etika, dan mempertimbangkan kepentingan publik tetap menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari profesi wartawan.
Perkembangan AI pada akhirnya tidak otomatis menghilangkan nilai jurnalisme. Justru ketika produksi konten semakin mudah dan murah, nilai tambah jurnalistik semakin bergeser pada hal-hal yang sulit diotomatisasi: informasi orisinal, pengetahuan lokal, akses, verifikasi, konteks, dan kepercayaan.
Di tengah situasi ketika hampir setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi, tantangan wartawan bukan semata menjadi pihak yang paling cepat mengunggah berita.
Wartawan dituntut menjadi pihak yang paling dapat dipercaya karena setiap informasi yang disampaikan kepada publik telah melalui proses verifikasi dan dapat dipertanggungjawabkan. [adv/riv]
Sebarkan-
Nasional3 tahun agoMajelis Ulama Indonesia Dan Masyarakat Spiritual Indonesia
-
Lifestyle3 tahun agoGeliat Kehidupan Malam Jakarta
-
Internasional3 tahun agoKTT Perdamaian Dunia HWPL Di Korea Selatan Turut Di Hadiri Ketua SMSI Kalsel
-
Banjarmasin2 tahun agoTidak Ada Yang Lebih Penting Daripada Air, Qum Water Solusi Kesehatan Masa Kini
-
Daerah3 tahun agoPolres Batola Berhasil Ungkap Kasus Tindak Pidana Penjualan Obat Bebas Terbatas
-
Banjarmasin2 tahun agoOrang Tua Wajib Tahu ! Apa Saja Informasi Dan Syarat PPDB Online 2024 SMP Negeri 11 Banjarmasin
-
Banjarmasin3 tahun agoLulus Akmil 2023, Sejak Kecil Hikmal Aris Farendy Sudah Ingin jadi Jenderal
-
Daerah2 tahun agoDayat El, Anak Muda Dari Banua Resmi Dilantik Jadi Anggota DPD RI
-
Nasional2 tahun agoMengharumkan Banua, Karateka Muhammad Afif Lubis Bawa Pulang Medali
-
Banjarmasin2 tahun agoLantik PDK Kerukunan Bubuhan Banjar Sa’Dunia, Paman Birin : Terus Eratkan Kebersamaan Warga Banjar Di Seluruh Tanah Air

